Latest Entries »

Vektor Horizontal

Bismillahirrahmaniirahiim

30 Juli 2011 – 17 Maret 2013 ??? Berapa jumlah hari telah terlalui diantara dua tanggal tersebut. Mau dihitung lewat program gak tau algonya apa lagi koding, lewat hitungan manual ntar ada selisih jawaban minimal satu hari, tanya ke yang lain mereka g’ ada urgensi dengan kedua tanggal terebut atau tanya ke Dewa Google aja ya?? Pastinya garis hubung diantara kedua tanggal tersebut mendeSKRIPSIkan anugerah yang kuterima, peristiwa-peristiwa yang bahkan belum terpikirkan akan terjadi sekalipun 😥 sakin banyaknya hingga tak mengizinkan waktu untuk berbagi sebuah Catatan di forum ini. Lalu apa sajakah gerangan kiranya yang terjaadi pada rentang waktu tersebut ?

Dari sisi lansekap posisi pengetikan masih di ruangan yang sama lengkap dengan furnitur yang tak berubah hanya ada sedikit penambahan sesuai kebutuhan seiring perjalanan waktu dan penggantian beberapa peralatan. Itu dari sisi materi, bagaimana dari sisi person, adakah terjadi perubahan dan tentu saja yang membaikkan ???

bentar, muhasabbah dulu …..

um …….. karena kebetulan saat ini zamanya KPK, Berani Jujur itu Hebat (ingat Anas Urbaningrum).

um …….. karena manusia itu berpotensi untuk melangkaui keistimewaan malaikat (ingat Angela Baby).

um …….. karena tak ada yang layak untuk diperjuangkan jika tak dilandasi oleh iman (ingat Sayyid Quthb).

um ……… karena pada akhirnya tak ada yang lebih manis selain kejujuran (ingat Madu Sialang Tesso Nilo).

um …….. (:think: dimana mendapatkan buku “History Of Lie” terbitan Penguins Book, seperti yang diucapkan oleh Herri Nurdi)…..um, karena katakanlah yang benar meski itu pahit (ingat hadist gak ingat perawi).

um …… jadi ingat banyak kisah yang berakhir sangat tak terduga akibat sifat jujur (kisah seorang musaffir yang dirampok, memakan buah tanpa seizin pemiliknya, penjaga kebun delima, mereka yang harus dipenggal, Jiao Yang Lu Chan dalam Tai chi Zero de-el-el)……

Baikah!! Maka, sudah menjadi resam kita orang Melayu untuk mengindahkan bunyi bahasa, seiring dengan sendi Ultranasionalisme yang kita anut. Jadi kuputuskan untuk menyampaikanya kedalam bait lirik teruntai berikut ini :

Maafkan kali ini aku harus jujur

Kau harus tau siapa aku sebenarnya

Terfikir dalam ingatku tentang cinta terlarang

Selama ini ku pendam

Jangan salahkan keadaan ini sayang

Semua adalah keterbatasan ku saja

Tak mampu menjadi yang kau mau

Aku mencoba dan aku tak mampu

Tak bisa lagi mencintaimu

Dengan sisi langitkuuu

Aku tak sanggup jadi biasa

Aku tak sanggup

Tak ada satupun yang mungkin bisa

Terima kau seperti aku

Mohon jangan salahkan aku lagi

Ini aku yang sebenarnya

Tak mampu menjadi yang kau mau

Aku mencoba dan ku tak mampu

Aku tak sanggup

[Tributte To Kerispatih]

Source : http://liriklagu-liriklagu.blogspot.com/2009/12/lirik-lagu-kerispatih-aku-harus-jujur.html

ah…., Aku hanya tak cukup gentle namun lagi-lagi menampilkan ego(bahkan alter ego sebagai manusia langit???, Marvell or DC Comics udah kepikiran dengan konsep ini belum ya?) untuk mengatakan bahwa aku telah menilai diri gagal selama rentang waktu tersebut dan kini ku ….

Yups …..!! sekaranglah saatnya berubah(diiringi aransemen musik Katsunori Ishida) melakukan recovery, repackage, rechange, recode, retransition atau apapun istilahnya. Bungkus !!! Jika diungkapkan kedalam satu kalimat bijak begini bunyinya “When Someone Fails to Keep a Commitment, There Is a 95 Percent Chance That It Will Happen Again (Ernie J. Zelinski)”. Terlepas dari mitos de javu, ketidakcakapan dalam merangkai bingkai hari yang bernilai dalam usaha meraih cita, keberulangan pada banyak hal yang tidak diharapkan akan tetap terjadi sepanjang perjalanan hidup ini. Tergantung bagaimana kita memaknainya(seandainya aku memiliki kebaranian seperti Pak Cip). Bagaimanapun kita bisa menjadi korban atau pelaku(baca:kesuksesan) namun kita tidak bisa menjadi keduanya sekaligus. Bukankah Born to Be Wild mensyaratkan hidup yang diisi dengan perbuatan (baca:kebaikan) sebagai wahana yang memperkaya nilai diri seperti kata Mario Teguh, hidup adalah berbuat, semakin banyak ia berbuat semakin tinggilah nilainya. Sejalan dengan pesan Shu Qi sesaat sebelum ia tertidur untuk selamanya “Ingat. Dalam hidup ini yang paling dibutuhkan hanya melakukan kebaikan itu sudah cukup” kepada anaknya Yang Lu Chan dalam Tai Chi Zero.

Gagasan brilian dari seseorang(ane lupa nama) gunakanlah sedikit waktu luang untuk pergi ke pemakaman. Lihatlah kepada satu nisan(hampir menjadi ketetapan universal setelah Penyebutan Nama terdapat dua tanggal yang berbeda) dan resapilah GARIS HORIZONTAL yang menunjukkan tanda baca hubung pada kedua tanggal yang dipisahkan tersebut. Menurut Anda adakah makna atau hanya sekedar simbol dalam tata bahasa saja ???

***

insipered by :   My Mom

” Facebook dan Internet akan meninggalkan jejak sesudah kita mati semua akan dicatat oleh Allah” Lany Hermawan Pict. Profile

Dedi Suarman semoga berhasil dalam ujian-Nya

Tuntas 2013 Facebook Group

All Friends

***sebuah pelarian, semoga menjadi moodbooster penyelesaian kewajiban narasi.

Iklan

Menilai Kekinian

“Bagaimanakah kita menilai dunia dalam kondisi sekarang? Kita tidak bisa membangun keseimbangan antara dunia dan akhirat. Bagaimana sahabat Nabi dan generasi sesudahnya berhasil melakukan itu ?”

DUNIA hanyalah salah satu terminal yang kita lewati. Banyak ayat dan hadist yang menerangkan hakikat tersebut. Manusia datang ke alam arwah dari rahim ibu. Dari rahim ibu menuju ke kehidupan dunia. Setelah melewati masa kanak-kanak, remaja, dewasa dan masa tua, ia pindah ke kubur dan alam barzakh. Dari sana ia menuju kebangkitan. Dari kebangkitan menuju kehidupan abadi. Manusia melewati seluruh tahapan tersebut. Ia berada dalam kehidupan dunia ini hanya beberapa saat.

                Ya. Dunia hanyalah satu diantara sekian terminal manusia. Rasul Saw. Menggambarkan kehidupan manusia di dunia seperti seseorang yang melewatkan sesaat pada siang hari dibawah naungna pohon lalu ia meneruskan perjalananya kembali.  Manusia laksana musafir yang melakukan perjalanan jauh. Di tengah perjalanannya itu ia beristirahat sebentar dengan bernaung dibawah pohon. Jadi dunia bukanlah tempat yang abadi, melainkan tempat istirahat singkatnya semata.

                Tanah air asli kita adalah alam arwah. Dari sana kita memakai pakaian jasad lalu kita datang ke dunia tempat kita memberikan bentuk kepada kehidupan abadi kita. Selanjutnya kita kembai ke tanah air asli kita. Karena itu kita harus menilai dunia dari sisi ini.

                Mukmin adalah sosok yang seimbang. Karena itu ia harus menjaga dirinya dari hal yang berbahaya karena terlalu berlebihan atau terlalu abai dalam masalah dunia. Ukuran yang diikuti disini adalah mementingkan dunia sesuai dengan seberapa lama kita berada disini dan mementingkan akhirat dengan seberapa lama kita berada disana. Al-Quran mengajarkan, Carilah kehidupan akhirat pada apa yang Allah berikan kepadamu dan janganlah engkau melupakan bagianmu dari dunia.

                Apakah yang Allah berikan kepada kita? Dia telah memberikan kita akal, hati, ruh, jasad, kesehatan, masa muda dna berbagai nikmat lainyayang tidak terhitung. Semua itu adalah modal. Dengan modal itu kita bisa membeli akhirat. Dalam ayat lain Al-Quran menjelaskan, Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri mereka dan harta mereka dengan surga untuk mereka.

                Disini manusia adalah pihak yang memberikan kesenangan sementara dan fana, sedangkan Allah Swt. Adalah pihak yang memberikan  dan menganugerahkan berbagai hal yang kekal dan abadi. Beerdasarkan perjanjian tersebut, Al-Quran menyeru kita untuk mencari negeri akhirat. Oeh sebab itu kita harus meletakkan akhirat sebagai fokus utama kita dalam setiap gerakan dan tindakan karena kita akan menetap disana secara abadi. Dunia adalah satu-satunya tempat yang mengantar ke sana dan jalan satu-satunya untuk mendapatkan keberuntungan di sana.

                Ayat di atas memberikan pesan kepada kita untuk tidak melupakan bagian kita di dunia. Namun, itu disampaikan dengan gaya bahasa yang menyiratkan bahwa akhiratlah yang utama. Akhiratlah yang harus kita piih dan kita tuju. Akhirat adalah target dan tujuan, karena akhirat adalah negeri tempat manusia berkembang dengan seluruh sisinya dan mencapai ketinggian. Jika kita menyerupakan kehidupan dunia kita dengan benih, akhirat adalah pohon besar dan tinggi menjulang ke langit yang berasal dari benih itu.

                Ya. Semua indera dan perasaan manusia akan tumbuh dan berkembang secara tidak terbatas. Kemampuan  melihat, merasa, mendengar dan sebagainya akan meningkat berkali-kali lipat, sementara di dunia kemampuan-kemampuan itu hanya kira-kira satu perseribunya. Tambahan lagi, orang-orang beriman akan menyaksikan keindahan Allah Swt. Kenikmatan menyaksikan keindahan ini beberapa saat  setara dengan kenikmatan ribuan tahun berada di surga. Karena itu manusia harus menjadikan itu sebagai fokus perhatinya ketika memilih antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Akankah  seorang hamba memilih hal lain ketimbang kebahagiaan menyaksikan Sang Penciptanya? Ketahuilah mendapat ridho Allah adalah nikmat yang tidak bisa diukur dengan kedudukan atau jabatan apapun, bahkan surga dengan seluruh kenikmatan dan perhiasanya sekalipun kecil dihadapan nikmat yang satu ini.

                Al-Quran al-Karim menerangkan kepada kita betapa nikmat tersebut sangat penting : Dan keridhaan Allah itu lebih besar. Dalam hadits disebutkan bahwa setelah mengantar orang mukmin ke surga dan menghalau orang kafir ke neraka, Allah berkata kepada para hambanya, “Wahai penduduk surga!”  Mereka menjawab “Kami sambut panggilan-Mu wahai tuhan, seluruh kebaikan ada di tangan-Mu”, Allah melanjutkan “Apakah kalian ridha?” Mereka menjawab “Bagaimana kami tidak ridha, wahai tuhan, sedangkan engkau telah memberi kami apa yang tidak engkau berikan pada satupun makhluk-Mu (yang-lain),” Allah bertanya, “Maukah kalian kuberi tahu sesuatu yang lebih baik dari pada itu?”, Mereka berkata “Wahai tuhan adakah yang lebih baik daripad itu?” Allah menjawab, “Kuberi kalian ridha-Ku sehingga setelah ini aku tidak akan murka kepada kalian selamanya”.

                Ketika kita menerapkan keseimbangan pada kehidupan ini, kehidupan ini sama sekali tidak boeh diabaikan. Itu karena engkau akan mencintai kehidupan dunia bukan karena kehidupan dunia itu sendiri, melainkan karena ia merupakan jembatan dan jalan menuju akhirat. Tidak ada masalah dengan hubungan semacam itu. Nabi Saw. menjelaskan hal tersebut dan menggambarkan dunia sebagai “ladang akhirat”. Dengan kata lain, kita tidak dapat menjadi penghuni surga kecuali dengan perantaraan dunia, sebab seuruh indera, perasaan, kehalusan dan potensi kita tuumbuh dan berkembang (sejak) disini. Dengan begitulah kelak kita akan bisa melihat Allah Swt.

                Manusia tidak bisa melihat Allah Swt. Karena belum menikmati kelayakan dan belum siap untuk itu. Persoalan ini tidak terkait dengan potensi waktu, dimensi ruang dan dimensi lainya. Allah Swt. lebih dekat kepada kita dari urat daripada urat leher kita. Dia memberi kita berbagai nikmat-Nya, berperran serta dalam urursan kita dengan kehendak-Nya, dan Dia bertinadak dengan kekuasaan-Nya yang tidak terhingga. Dalam ungkapan tassawuf, kita bisa mengatakan, “Tidak ada yang lebih jelas daripada Allah, namun Dia tidak tampak bagi mereka yang buta”. Jika kita tidak bisa melihat-Nya, ini mengacu pada kelemahan kita. Proses untuk menghilangkan kelemahan tersebut  ada ditangan Allah Swt. serta akan sampai pada keinginan dan harapan utamanya.

                Jadi, dunia adalah ladnag yang mengahsilkan buah itu untuk kita. Ketika manusia berpindah dari dunia menuju akhirat, tirai-tirai cahahya melenyap satu demi satu. Akhirnya, manusia bisa melihat tuhanya. Dunia adalah ekspresi manifestasi nama-nama Allah Swt. Karena itu, kita tidak patutu menyepelekan dunia sedikitpun, karena hakikat segala sesuatu tidak lain adalah menifestasi nama-nama Allah Swt. Dalam istilah Jalaludin Rumi, apa yang terjadi pada kita dan kehendak kita menyerupai panji di atas tiang yang sangat tinggi. Di atas panji yang berkibar itu terdapat sejumlah tulisan.yangbergerak dan mengibarkan panji itu adalah Allah Swt. sebagai Sang Azali dan Abadi. Karena itu kita melihat berbagai hal dan peristiwa itu berada dibawah kehendak dan pengaturan-Nya. Kita menyaksikan keindahan-Nya pada setiap bunga dan setiap tetes embun di bunga itu. Jalaludin Rumi menerangkan ha ini dengan unngkapan yang tidak jelas bagi sebagian orang, “Berbagai imajinasi yang merupakan jendela para wali hanyalah cermin yang mementulkan wajah-wajah bersinar di taman Allah. ”

                Allah Swt. menampkkan di hadapan kita sejumlah manifestasi dan keesaan-Nya. Kemudian lewat kelembutan dan kemurahan-Nya serta sesuai dengan rahasia keeesaan-Nya, Dia mengantarkan kita untuk memahami makna berbagai karunia-Nya yang diberiikan kepada kiitasesuai dengan pemahaman kita. Disini aku tidak hendak menerangkan persoalan yang halus ini. Yang ingin aku katakan terkait dengan masalah yang kita bahas adalah bahwa dunia merupakan kebun Allah Swt. Cahaya-cahaya sang pemilik wajah yang bersinar bak bulan purnama memantul pada cermin hati kita. Dengan demikian berbagi hal yang kita kerjakan atas nama dunia adalah ekspresi dari gelombang panjang manifestasi yang datang dari-Nya. Disini tentu saja kita tidak melihat-Nya menurut pandangan pantheisme. Kita tidak memandangnya demikian, tetapi kita menegaskan pendapat Imam Ahmad al-Shirindi yang bergelar Imam Rabbani bahwa hakikat segala sesuatu adalah ekspresi nama-nama Allah Swt.

                Ya. Kita tidak bisa meninggalkan dunia karena kita tidak bisa meraih  akhirat tanpa perantaraan dunia. Benar bahwa dunia berisi tumpukan kotoran dan kepalsuan, tetapi berapa banyak permata berharga berbagai hakihat tersimpan dibaliktumpukan kotoran itu. Ada sebuah kisah dalam al-Matsnawi  tentang Mahmud al-Ghaznawi. Kisah tersebut dan kisah-kisah semacamnya adalah kisah-kisah simbolis. Seorang ahi hikmah berkebangsaan India, Bediba sebelum Lafonten telah menuis kisah dan hikmah lewat lisan binatang. Setelah itu, banyak ulama islam mengikuti cara tersebut dalam buku-buku mereka. Di antara mereka adalah Maulana Jalaludin Rumi. Ia menceritakan sebuah kisah lewat isan Mahmud al-Ghaznawi dan anjingnya yang selalu berada di dapan pintu rumahnya. Setiap hari anjingnya pergi ke tempat sampah di depan istana. Ia selau menggali dan mencari sesuatu di situ, namun ia tidak mendapatkan sesuatu pun yang bisa ia makan. Meskipun demikian, pada hari beriktunya ia pergi lagi ketempat itu dan terus mencari sesuatu yang bisa ia makan smapai sore hari. Itulah kebiasaan si anjing setiap hari. Meihat hal itu, suatu hari Mahmud al-Ghaznawi berkata kepada anjingnya, “Berhari-hari engkau menggali tempat sampah itu namun tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi, engkau tidak pernah berhenti pergi kesana. Apakah engkau tidak bosan dan  tidak jenuh dalam melakukan pencarian yang tidak menghasikan apa-apa itu?” Anjingnya menjawab, “Suatu hari di tempat sampah itu, aku pernah mendapatkna tulang, karena itulah aku pergi kesana setiap hari, barangkali aku menemukan tulang lagi.”

                Dunia dalam pandangan ahli hakikat adalah tumpukan kotoran dan kepalsuan seperti tumpukan sampah itu. Di dunia  ini Allah Swt. mencampur kebaikan dengan kejahatan, keindahan dengan keburukan. Agar keburukan segala sesuatu tidak dinisbahkan kepada Allah secara langsug. Dia meletakkan tirai sebab, sehingga keburukan berbagai lahiriah berbagai hal berada didepan tirai itu. Namun Allahlah pencipta segala dan pencipta semua. Pada segala sesuatu sebenarnya termanifestasi pula nama-nama-Nya yang tidak kita ketahui. Nama-nama tuhan tidaklah terbatas. Hanya dia sendiri yang mengetahui jumlahnya. Jadi ada nama-nama yang hanya diketahui oleh-Nya saja karena tidak ia ajarkanpada seorang nabi atau malaikat yang dekat dengan-Nya sekalipun. Demikianlah kita mencari hakikat kebenaran di dunia ini, barangkai saja kita menemukan satu diantara sekian hakikat kebenaran dan kadang kita mencari dengan penuh semangat di tempat-tempat yanng dianggap orang lain sebagai tempat sampah.

                Ada sisi lain dunia yang kita jauhi dan kita hindari ini adalah sisi yang datang dengan sendirinya karena ia fana dan pasti sirna. Ia tidak memberimu sepotong kue manis kecuali disertai dengan sejumlah tamparan. Inilah sisi permainan dan tipuan. Itulah sisi yang disambut penghamba dunia, padaha itu adalah sisi buruk yang harus kita hindari. Semakin jauh darinya, semakin baik.

                Jadi, kita bisa membangun keseimbangan antara dunia dan akhirat dari sisi ini. Dunia fana sedangkan akhirat kekal. Rasul Saw. tidak meninggalkan dunia in dan tidak memisahkan diri dari manusia, namun (pada saat yang sama) beliau senantiasa  bersama Allah Swt. Bagaimana tidak beliau Saw. bersabda, “Mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas tindakakan buruk mereka mendapatkan pahala lebih besar daripada mukmin yang bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas tindakan buruk mereka.”

                Kita juga harus bersikap begitu. Kita bisa berjalan dipasar-pasar dan dijalan-jalan walaupun tempat itu penuh dengan sampah serta bisa terus berada di sekolah dan kampus sebagai pelajar dan guru, serta bersabar atas berbagai sikap buruk serta mengorbankan sebagian bentuk karunia Ilahi, bahkan kita kadang kita mengorbankan jalan yang mengarah kepada kewalian dan kedekatan dengan-Nya, baik sengaja maupun tidak. Sebagaimana rasu Saw. kembali dari surga-saat mikraj- dan tidak terpengaruh oleh keindahanya untuk berbaur dan bergaul dengan manusia di dunia, kita juga harus meneladani akhak Rasul Saw. Kita harus menampikan hakikat kebenaran teragung yang dibawa nabi Muhammad Saw. Orang-orang yang berada di dunia seperti berdiri di atas bara api tidak mungkin selamanya memandang wajah fana dunia. Hati mereka tidak mungkin terus terpana olehnya. Mereka bersama makhluk, tetapi hati mereka selalu bersama Allah Swt.

                Rasul Saw. tidak pernah memikiirkan dunia meskipun dunia telah mendatangi beliau dan berada di bawah kaki beliau. Beliau tidak pernah berpikir untuk bersenang-senang dengan dunia. Beliau meninggalkan dunia sebagaimana beliau datang ke dunia. Ketika datang ke dunia, beliau dibungkus oleh sehelai kain. Ketika meninggalkan dunia, beliau juga dibungkus oleh sehelai kain.

                Sepanjang hidupnya yang mulia, Rasul Saw. berusaha membangun peradaban yang seimbang di sini di dunia dan di sana. Sepanjang hidup, beliau tidak pernah berhenti berdakwah. Beliau telah menyerahkan diri pada Allah Swt. Karena itu beliau hidup dengan tenang seraya berusaha mendapatkan ridha Allah Swt. dan menyelamatkan umat manusia. Kesucian jiwa beliau tidak ternodai oleh nafsu dan kenikmatan dunia.

                Beliau membangun tatanan islam dan menerapkanya di rumah. Ketika muncul berbagai tuntutan duniawi dari sejumlah istri beliau, beliau meninggalkan mereka. Bahkan atas perintah Allah Swt., Rasul Saw. memberikan pilihan kepada mereka antara tetap bersama beliau seraya mencukupkan diri dengan apa yang beliau miiki atau dicerai secara baik-baik. Para istri beliau lebih  memilih tetap bersama beliau dan bersabar mengahadapi kehiduoan yang sulit . Umar Ra. Menemui Rasul Saw. yang berada dikamarnya sedang menjauhkan diri dari para istrinya. Umar melihat bekas tikar menempel di punggung Nabi Saw. Melihat ha itu umar menangis. Rasul Saw. bertanya “Mengapa engkau menangis, Umar?” Ia menjawab “Kisra dan kaisar hidup dalam kondisi begitu mewah sedangkan engkau wahai Rasulullah!” Mendengar itu, beliau berkata, “Tidakkah engkau rela, wahai Umar, kalau dunia menjadi milik mereka sedangkan akhirat menjadi milik kita?”

                Rasulullah Saw. tidak meninggalkan dunia, tetapi beliau melihat dan memperlihatkan seluruh hakikat ketuhanan yang termanifestasi di alam serta memperdengarkanya ke segenap alam lewat para tentara beliau yang menjelajah seantero bumi dengan membawa dan meninggikan panji Islam di setiap tempat. Di sini, menurutku, sangat penting mencatat kesimpulan yang diambil para sosiolog kontemporer :

                “Sampai masa Rasulullah Saw. umat manusia telah mencatat kemajuan sekitar 25%. Berkat beliau dan pada rentang waktu yang singkat umat manusia telah menambah tingkat kemajuanya menjadi 50%. Sejak massa beliau hingga saat ini, umat manusia hanya bisa mencatat tambahan kemajuan sebesar 25%. Adapun sisanya baru akan dicapai pada masa mendatang.”

            Ini membuktikan bahwa beliau adalah teladan dan panutan bagi semua generasi hingga hari kiamat. Beliau tidak pernah memisahhkan diri dari meninggalkan dunia, tetapi beliau mengetahui bagaimana mengerahkan umat secara tepat, mana yang harus dipentingkan dan seberapa besar.

Disadur dari Tulisan M Fethullah Gullen    

                Image

Citizen

Manchester City jadi tim terakhir yang memastikan sebagai juara liga diantara liga-liga populer Eropa, setelah sebelumnya Juventus, Borussia Dortmund dan Real Madr*d. Sebuah penantian yang panjang dengan usaha ekstra panjang juga tentunya hingga detik-detik terakhir sebelum musim kompetisi 2011/2012 berakhir. Trofi yang sama pernah mereka raih baru sekitar 44 tahun yang lalu, tidak cukup lama bukan ? Sepakbola merupakan olahraga yang digerakkan oleh hati, dibumbui oleh emosi dan ditampilkan dengan pergerakan. Saat ini telah tumbuh dan berkembang menjadi sektor bisnis yang menghasilkan pendapatan, mendanai bermacam kegiatan sosial, menjadi sarana propaganda untuk misi-misi tertentu (dan terbukti efektif), membentuk sekelompok orang menjadi berhala-berhala yang dengan senang hati dipuja oleh penggemarnya. Berbagai jenis industri diturunkan dari sepakbola, seperti hak siar televisi, sponsor tim, apparel, membership, fans club dan lain sebagainya serta fanatisme pada individu dengan kapital berlebih telah membuat segala hal yang berkaitan dengan sepakbola menjadi wah !. Sebelumnya kita mengenal  Roman Abramovich dan saat ini kita memastikan hal yang sama juga terjadi pada Manchester City. Benarkah ada korelasi antara kapitalisasi modal dengan prestasi yang didambakan.

Dalam kasus Chelsea kita mengetahui bahwa saat dibeli oleh Pengusaha Asal Negeri Sukhoi berada dibawah asuhan pelatih Claudio Ranieri. Dengan skuad yang pas-pasan pada saat itu The Pensioner hanya menjadi tim menengah yang berjuang untuk mendapat tiket ke liga eropa pada saat itu seperti UEFA maupun Winners. Mereka kalah bersinar dari tentangga mereka di Utara, Arsenal. Seiring dengan kedatangan Abramovich, musim tersebut menjadi musim terakhir Ranierri di Chelsea. Sama halnya dengan City saat ini, melakoni gaya manajemen yang sama mereka berhasil membuat raja di kota nya membungkuk sembari berharap memberi hormat.

Your Citizen.

 

Dimana Seh … (C)

Tentang C  

C, sebagai lingua franca dalam dunia pemrograman menjadi satu standar minimum bagi seorang yang ingin menerjuni dunia pemrograman sebagai tujuanya. Joel Spolsky dalam  Advice for Computer Science College Students menggambarkan bahwa kita tak akan memiliki cukup kemampuan untuk membuat program yang lebih efisien pada bahasa pemrograman yang lebih tinggi jika kita melupakan C sebagai fondasi keilmuan kita, sebagai syarat untuk terjun dalam dunia persilatan(pemrograman). Banyak hal positif yang dapat kita gali lebih dalam mengenai fakta ini. Kita ingat, setidaknya kita pernah mendengar minix sebuah bahasa pemrograman berbasis Unix yang dikembangkan untuk implementasi pada mini komputer telah mendorong lahirnya sistem operasi yang lebih kompleks dari Linus Trovalds. Namun terkadang sulit untuk mendalami hal yang tidak mendapat dorongan maupun stimulus untuk mempelajarinya lebih jauh. Hingga akhirnya sekarang, ketika beragam jenis bahasa pemrograman dijajarkan dan telah dilalui dalam sistem pembelajaran, saya baru tersadar ada yang salah dengan konsep pembelajaran yang saya lalui saat ini. Bahasa induk tertinggal, ketika beragam bahasa anak keturunan telah menjadi pujaan dalam segala keterbatasan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Karena algoritma pemrograman, bukanlah sebuah bahasa pemrograman, dengan kata lain algoritma pemrograman adalah satu hal dan bahasa pemrograman hal lainya. Bahasa pemrograman tidak sekedar tentang segala aturan koding yang berlaku namun lebih dari itu semua terdapat sebuah filosofi, sejarah dan beragam cerita menarik yang pantas untuk dikedepankan sebagai sarana yang memotivasi dalam pemelajaran.

Meski, buku komputer pertama yang saya miliki berjudul  10 Langkah Mudah Belajar Agoritma Pemrograman dengan Bahaas C/C++ pada GNU/Linux, saya belum dapat menemukan sebuah kesadaran tentang kontribusi bahasa C dalam pengembangan komputer. Memahaminya lebih jauh, dalam koridor struktur yang mengembangkan beragam fungsi sederhana hingga dapat berkomunikasi dengan perangkat keras. dan berikut beberapa keistimewaan C yang lebih dulu ada,

– Bahasa C tersedia hampir di semua jenis komputer.
– Kode bahasa C sifatnya adalah portable dan fleksibel untuk semua jenis komputer.
– Bahasa C hanya menyediakan sedikit kata-kata kunci. hanya terdapat 32 kata kunci.
– Proses executable program bahasa C lebih cepat
– Dukungan pustaka yang banyak.

Belajar Kebiasaan
Menulis(mengkoding) program secara intensif merupakan cara pemula untuk mengawali pembelajaran bahasa pemrograman. Terlepas maksud dan tujuan masing-masing dari setiap deklarasi, sintaks, logika dan lainya rasa nyaman ketika menyaksikan koding program yang telah dikompilasi memberikan kepuasan tersendiri bagi sang calon programmer. Hal ini dapat semakin dikembangkan lebih jauh namun upaya ini juga harus dibarengi dengan kegiatan diluar koding itu sendiri. Menikamati peran sebagai sang pemelajar dalam dunia pemrograman komputer merupakan suatu berkah yang patut untuk disyukuri karena kita akan berada pada suatu ruang dimana kita menjadi sedikit dari sebagian besar orang yang mendapat kesempatan berada pada lingkaran pekerjaan yang begitu menyenangkan untuk digeluti.

Diperlukan usaha ekstra untuk itu, ada beragam ketidaknyamanan yang bisa kita rasakan jika kita menganggapnya sebagai beban namun jauh sebelumnya kita telah dimudahkan dengan segala bentuk fasilitas pengembangan yang ada agar kita semakin sadar tentang peran dan tanggung jawab kita kedepanya.

 

Tentang Laku

Peluang untuk memperbaiki diri selalu ternganga di depan mata berbanding lurus dengan kesempatan untuk membiarkan diri hanyut dalam suatu keadaan yang semakin mengarahkan kita pada suatu ruang yang sejatinya bukanlah tempat yang tepat bagi kita. Aku tak tahu pasti peluang mana yang akan mendominasi dalam keseharian berbuatku. Namun yang jelas, tentang arti sebuah kesadaran, setidaknya kita dapat bersepakat tentang satu hal, bahwa hakikatnya manusia adalah makhluk yang baik. Lalu apa lagi yang harus kita persoalkan dalam kehidupan keseharian kita mengenai berbagai laku manusia yang terdengar, terlihat, terpikir oleh kita. Beragam laku tertentu yang muncul dan menguasai indera kita untuk sejenak memberikan perhatian sedikit lebih banyak tentangnya. Tentu saja laku tersebut, laku yang secara tidak langsung telah memenuhi standar maupun aturan tertentu untuk mendapat nilai lebih dibanding laku lainya.
Laku apakah gerangan kiranya, aku hanya ingin menyebutkan tentang satu atau mungkin lebih dari beberapa hal yang tidak lebih baik dari apa yang anda ketahui. Satu, seperti kata seorang bijak “Hidup adalah berbuat”, tak lebih dari itu. Aku mencoba, untuk menerangkan pemahamanku tentang makna dari kata seorang bijak tersebut. Melakukan suatu tindakan, dengan atau tanpa rangsangan dari luar yang dibawa oleh sensorik kepada pusat saraf melalui koneksi neurotransmitter yang kemudian di respon melalui motorik kemudian diterjemahkan diterjemahkan
dengan gerakan fisik, sejatinya menuntun kita kepada kesadaran yang kerap kita abaikan. Sebuah kesadaran tentang satu kompleksitas menyeluruh pada ruang mikroskopis yang begitu sempurna, setidaknya hal ini berlangsung pada makhluk yang namanya manusia.
Sebuah laku, perbuatan tak lebih sederhana dari hirupan nafas di udara yang telah tersedia tetapi juga tidak lebih kompleks dari pengolahan data oleh prosesor komputer. Ia akan berarti, tak mati dan melegenda pada diri seseorang jika dilandasi oleh energi kesadaran. Secara kasat memberikan bentuk fisik dari tindakan yang dilakukan dan dengan cara lainya pada dimensi kuantum, hal itu merupakan sebuah aksi proses yang sungguh akan memberikan banyak hal positif bagi si pelaku, begitu juga sebaliknya .

Aku tak tahu bagaimana baiknya memulai postingan kali ini, jujur aku bukanlah orang yang terstruktur dengan berbagai agenda harian yang mesti kujalani. Aku menjalani hari bak air mengalir, tidak menyalahi hukum alam mencari tempat yang lebih rendah selalu menerima apa saja yang ingin menyatukan diri untuk lebur kedalamnya dan dengan rela mengorbankan kemurnian yang telah menjadi sifat sejatinya, meski seutuhnya aku seorang individu, merasa cukup dengan apa yang kumiliki dalam berbagai hal namun aku masih butuh akan kegenapan. Sesuatu yang selalu ku rindu, pastinya! ketidakberadaanya membuat ku menjadi penderita penyakit AIDS (Angkuh Iri Dengki Sombong), merasa bangga akan diri dari yang sesungguhnya, enggan melakukan introspeksi, menjadi pelupa yang menyedihkan dan sulit untuk mampu memberi makna pada beragam lakon keseharian yang kujalani. Ketikan jejari di tuts keyboard ini, ia lah yang menstimulasiku tetap terjaga untuk membalaskan dendam karena ia yang kudambakan sebagai penggenapku. Irasional memang, ketika sebuah keinginan yang dipaksakan untuk terus diupayakan meski nantinya akan membuahkan hasil dengan memberikan sebuah keadaan atau bahkan tragedi yang tidak menyenangkan kepada satu pihak.

wah, malas banget deh rasanya memulai untuk membiasakan diri dengan beragam aktifitas yang telah menjadi komitmen untuk dilaksanakan. Selalu terbuka ruang untuk menjadi seorang yang inkonsisten, tentunya dengan beragam alasan dengan nilai kekuatan yang mampu menjadi pembenaran untuk melanggar lagi, melanggar lagi dan entah sampai kapan keadaan ini mencapai titik jenuh. Atau hanya karena komitmen itu dideklarasikan kepada diri sendiri, tanpa adanya sanksi yang memberatkan terlebih lagi aku masih belum tahu batasan sebuah janji dapat dikategorikan sebagai komitmen. Aku membisikkan dalam hati bahwa aku akan begini, begitu ini, begitu-begitu dengan kepala tertunduk tanpa ada seorangpun yang dijadikan pendengar dari apa yang kuanggap sebagai komitmen itu kusuarakan. Mungkin karena alasan inilah aku tidak memiliki beban untuk senantiasa melanggar apa yang kusuarakan.
Sepintas kepikaran sepele memang, jika hal ini telah menjadi kebiasaan, kebiasaan mengingkar setidaknya pada perubahan positif yang menjadi landasan dalam menapaki keseharian di bumi Allah ini. Tak ada urgensinya lagi ketika pesan positif yag sengaja ditiupkan menjadi perihal nihil makna karena jatuh pada diri yang salah, kerap mengabaikan janji, sulit memahami arti, terlalu mengecilkan peran dan segalanya bermuara pada ketidakcakapan diri dalam mencari hakikat hidup di dunia ini.
Aku semakin jauh tertinggal, dan usahaku untuk memperkecil gap hanya bisa kuvisualisasikan di alam kuantum ;-), semoga saja hukum tarik menarik yang konyol itu membuahkan hasilnya pada permasalahan ini.

Diri Permasalahan

Memulai hari dengan kesadaran bahwa hari ini aku dapat berbuat baik, melakukan segala hal yang tidak bertentangan dengan norma yang selama ini telah terpendam dalam pengetahuanku, membikinya sebagai sebuah hadiah yang tak ternilai harganya dan aku harus senantiasa mengingat untuk tidak hanya menjadi seorang yang selalu menerima tanpa mengetahui konsekuensi dari apa yang telah kuperoleh tersebut. Pagi ini aku awali dengan bangun pagi kesiangan, sebuah pertanda bahwa aku akan mendapatkan sesuatu yang semestinya telah aku terima. Seperti hari-hari biasanya sebagai seorang yang masih betah menyandang status pengangguran, aku tidak pernah risih dengan berbagai kondisi materi yang kumiliki, setidaknya itu berlangsung hingga saat ini.
Mencoba untuk merutinkan diri dengan beragam kesibukan yang semakin dapat membangun apa yang telah ada pada diriku saat ini. Setidaknya hal sederhana itulah yang coba untuk kuusahakan setiap hari, inilah pekerjaanku, profesiku dan aku berkarir didalamnya dengan jabatan mencakup pimpinan, manajerial, operator dan tentu saja destiny dari proyek tersebut. Proyek percontohan dengan tujuan untuk menjadi lebih baikku ini terselenggara oleh beragam kepentingan. Tak dapat dipungkiri memang, sebagai insan minim ilmu aku adalah seorang yang haus akan perhatian, sulit untuk menemukan makna sejati didalam setiap lakon aktivitas, selalu berbarengan dengan kesombngan yang menganga jelas dan semakin merasa bangga jika orang lain mengetahuinya yang membuat diriku semakin jauh dari kesadaran tentang diriku yang sesungguhnya.
Adakah yang rela untuk membantuku dari permasalahan akut yang ku alami ini ?

celoteh

Menggerakkan diri untuk melangkah ke tujuan yang sejalan dengan segala aturan yang berlaku, menjelajah di dalam ruang dengan segala peraturan yang mengisi setiap sisi sebagai penjaga kebenaran yang diakui secara universal dan tentu saja sebagai pembeda antara dua yang selalu saling memberikan dampak sebagai gambaran berbeda yang tak pernah dapat disatukan karena masing-masing memiliki nilai absolut yang mendasarinya. Telah membuat suatu keadaan dimana setiap entitas menjadi pengikut dua aliran besar tersebut, saling mengklaim mana yang sesungguhnya, untuk terus dapat mengalir dengan segala keyakinan yang telah tertanamkan menuju tujuan akhir yang telah ditentukan sebelumnya sebagai sebuah cita-cita. Ini tak hanya sebagai sebuah paham yang difantikkan untuk selalu dijunjung tinggi keberadaanya namun lebih jauh ini merupakan esensi yang dijalani oleh setiap entitas yang hidup didunia ini. Menganggarkan diri untuk terjun menggeluti suatu jalan kebenaran yang tersedia tersebut adalah sebuah upaya yang memberikan dampak yang belum tentu dapat mengarahkan ke tujuan utama dari jalan piilihan tersebut. Karena masih banyak hal-hal yang belum dapat diungkap mengenai kehadiran waktu yang senantiasa mengiringi setiap hal yang terkreasi di dunia ini. Waktu menjadi hal yang diperhitungkan lainya, menyaksikan setiap peristiwa dengan seksama, bersifat netral terhadap segala hal yang terjadi, dan menjadi hal yang paling abadi pada seluruh dimensi kehidupan yang ada di dunia ini.  Eksistensi waktu, telah menjadi suatu keistimewaan tersendiri dalam perjalanan kehidupan didunia ini.  Waktu yang baik disadari maupun enggan untuk diakui adalah satu-satunya entitas yang dengan segala nilai netral menciptakan diri sebagai saksi atas segala sesuatu yang telah, sedang dan akan berlangsung dalam kehidupan ini. Kondisi dilematis yang harus diputuskan oleh manusia, menggurui diri dengan tanggung jawab dari pilihan yang telah diputuskan, menjajakan segala tindakan yang dilakukan sebagai konsekuensi hidup didunia ini.

 

monung

Terbitlah sebuah ungkapan yang semakin menekan jiwa yang tak berpendirian, sulit memegang prinsip, senantiasa berusaha dengan hanya visualisasi yang acap melanggar asas rasionalitas sesungguhnya dari sebuah pencapaian yang ingin diraih. sehingga ia yang menekan dengan segenap asa positif miliknya guna mengembalikan potensi sang diri sejatinya dianggap sebagai sebuah tirai pengukung kebebasan yang bisa dicauk oleh diri, setidaknya jika ia diberi ketiadaan seperti yang diharapkanya. Ia hanya ingin membentuk sebuah realitas, meski di alam keadaan yang membuatnya semakin jauh dari realitas yang ingin dinyatakanya tersebut dan saat ini ia telah meraih apa yang diinginkanya setidaknya di alam realitas yang diciptakanya sendiri. Lihatlah sekarang ia tersenyum 2-2-8, kondisi yang sulit untuk ditunjukkan oleh situasi riil.