wah, malas banget deh rasanya memulai untuk membiasakan diri dengan beragam aktifitas yang telah menjadi komitmen untuk dilaksanakan. Selalu terbuka ruang untuk menjadi seorang yang inkonsisten, tentunya dengan beragam alasan dengan nilai kekuatan yang mampu menjadi pembenaran untuk melanggar lagi, melanggar lagi dan entah sampai kapan keadaan ini mencapai titik jenuh. Atau hanya karena komitmen itu dideklarasikan kepada diri sendiri, tanpa adanya sanksi yang memberatkan terlebih lagi aku masih belum tahu batasan sebuah janji dapat dikategorikan sebagai komitmen. Aku membisikkan dalam hati bahwa aku akan begini, begitu ini, begitu-begitu dengan kepala tertunduk tanpa ada seorangpun yang dijadikan pendengar dari apa yang kuanggap sebagai komitmen itu kusuarakan. Mungkin karena alasan inilah aku tidak memiliki beban untuk senantiasa melanggar apa yang kusuarakan.
Sepintas kepikaran sepele memang, jika hal ini telah menjadi kebiasaan, kebiasaan mengingkar setidaknya pada perubahan positif yang menjadi landasan dalam menapaki keseharian di bumi Allah ini. Tak ada urgensinya lagi ketika pesan positif yag sengaja ditiupkan menjadi perihal nihil makna karena jatuh pada diri yang salah, kerap mengabaikan janji, sulit memahami arti, terlalu mengecilkan peran dan segalanya bermuara pada ketidakcakapan diri dalam mencari hakikat hidup di dunia ini.
Aku semakin jauh tertinggal, dan usahaku untuk memperkecil gap hanya bisa kuvisualisasikan di alam kuantum ;-), semoga saja hukum tarik menarik yang konyol itu membuahkan hasilnya pada permasalahan ini.

Iklan