Manchester City jadi tim terakhir yang memastikan sebagai juara liga diantara liga-liga populer Eropa, setelah sebelumnya Juventus, Borussia Dortmund dan Real Madr*d. Sebuah penantian yang panjang dengan usaha ekstra panjang juga tentunya hingga detik-detik terakhir sebelum musim kompetisi 2011/2012 berakhir. Trofi yang sama pernah mereka raih baru sekitar 44 tahun yang lalu, tidak cukup lama bukan ? Sepakbola merupakan olahraga yang digerakkan oleh hati, dibumbui oleh emosi dan ditampilkan dengan pergerakan. Saat ini telah tumbuh dan berkembang menjadi sektor bisnis yang menghasilkan pendapatan, mendanai bermacam kegiatan sosial, menjadi sarana propaganda untuk misi-misi tertentu (dan terbukti efektif), membentuk sekelompok orang menjadi berhala-berhala yang dengan senang hati dipuja oleh penggemarnya. Berbagai jenis industri diturunkan dari sepakbola, seperti hak siar televisi, sponsor tim, apparel, membership, fans club dan lain sebagainya serta fanatisme pada individu dengan kapital berlebih telah membuat segala hal yang berkaitan dengan sepakbola menjadi wah !. Sebelumnya kita mengenal  Roman Abramovich dan saat ini kita memastikan hal yang sama juga terjadi pada Manchester City. Benarkah ada korelasi antara kapitalisasi modal dengan prestasi yang didambakan.

Dalam kasus Chelsea kita mengetahui bahwa saat dibeli oleh Pengusaha Asal Negeri Sukhoi berada dibawah asuhan pelatih Claudio Ranieri. Dengan skuad yang pas-pasan pada saat itu The Pensioner hanya menjadi tim menengah yang berjuang untuk mendapat tiket ke liga eropa pada saat itu seperti UEFA maupun Winners. Mereka kalah bersinar dari tentangga mereka di Utara, Arsenal. Seiring dengan kedatangan Abramovich, musim tersebut menjadi musim terakhir Ranierri di Chelsea. Sama halnya dengan City saat ini, melakoni gaya manajemen yang sama mereka berhasil membuat raja di kota nya membungkuk sembari berharap memberi hormat.

Your Citizen.